Sebelumnya saya menggunakan ubuntuzilla untuk menggunakan upgrade Firefox di Ubuntu 9.04 Jaunty, tetapi hal tsb gak ampuh untuk dikantor yng ftp portnya di blok oleh tembok api.  Sedikit informasi ubuntuzilla untuk proses donwloadnya menggunakan port ftp.

Untuk menyiasati hal tersebut, saya jalankan upgrade secara manual, dengan langkah sebagai berikut :

1. Download firefox*.tar.bz2 dan simpan difolder yang dikehendaki, dengan perintah wget "http://download.mozilla.org/?product=firefox-3.5.2&os=linux&lang=en-US"

2. Ekstrak file, tar xvjf firefox-*.bz2

3. Copy kan file ke folder /usr/lib, sudo cp -r firefox /usr/lib/firefox-3.5.2

4. Backup file firefox di /usr/bin ke firefox.old sudo mv /usr/bin/firefox /usr/bin/firefox.old

5. Bikin symbolic link, sudo ln -s /usr/lib/firefox-3.5.2/firefox /usr/bin/firefox-3.5.2

6. Dan link terakhir , sudo ln -s /usr/bin/firefox-3.5.2 /usr/bin/firefox

7. Restart Firefox

Semua berjalan dengan baik, jika ada masalah dapat melakukan restore versi sebelumnya, lakukan perintah sbb :

  1. sudo mv /usr/bin/firefox /usr/bin/firefox.bak
  2. sudo mv /usr/bin/firefox.old /usr/bin/firefox

Thx.

sumber : http://gaarai.com/2009/07/01/upgrade-to-firefox-3-5-on-ubuntu-9-04-jaunty-jackalope/

Advertisements

Teladan Ummu Sulaim

August 6, 2009

Oleh Rifqi Fauzi

Dalam sebuah hadis, Anas menceritakan tentang keluarga Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Pasangan ini dikaruniai seorang anak yang dipanggil dengan nama Abu Umair.

Suatu hari, Umair sakit parah, sampai meninggal dunia. Sementara Abu Thalhah sedang tidak berada di rumah. Ummu Sulaim pun memandikan, mengafani, dan menutupkan pakaian kepadanya, seraya berkata kepada khalayak.

”Jangan ada seorang pun yang memberitahukan hal ini kepada Abu Thalha, Biarkanlah aku sendiri yang akan mengabarkannya.” Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim menyambutnya dengan tubuh yang sudah wangi dan berdandan. Dia pun telah menyiapkan hidangan makanan untuknya.

Sebagai bapak yang sudah lama bepergian, Abu Thalhah merasa rindu kepada anaknya. Dia pun bertanya, ”Abu Umair, sedang apa?”

”Makanlah dulu, lalu istirahatlah!” jawab Ummu Sulaim.
Abu Thalhah pun menurutinya. Sehabis makan, dia beristirahat. Di tempat tidur, istrinya bertanya. ”Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu, jika suatu keluarga dipinjami suatu benda oleh keluarga lain. Kemudian, si pemilik benda tersebut meminta untuk mengembalikannya. Apakah keluarga tersebut akan mengembalikannya atau menahannya?”

”Tentu harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah. Lalu Ummu Sulaim berkata, ”Kalau begitu, mohonlah pahala atas kematian Abu Umair, karena sesungguhnya Allah hanya menitipkannya kepada kita sebagai amanat. Dan sekarang Dia ingin mengambilnya kembali.”

Pagi harinya Abu Thalhah menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ”Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.” (HR Bukhari-Muslim).

Salah satu hak dan kewajiban suami istri adalah bergaul dengan cara yang baik. Kisah di atas menjadi contoh bagaimana cara bergaul suami istri yang baik, di mana Ummu Sulaim menyambut suaminya yang datang dari bekerja dengan ramah tamah, wajah ceria, dan dengan penampilan yang menarik.

Padahal, dia masih diselimuti duka yang mendalam dengan kepergian anaknya. Dia pun memberikan contoh bagaimana cara menyampaikan kabar buruk dengan cara yang baik kepada suami.

Ummu Sulaim tidak ingin suaminya merasa kaget, stres, dan meratapi kepergian anaknya, sehingga dia menyampaikannya dengan cara diplomatis, sehingga Abu Thalhah bisa menerimanya dengan lapang dada.

Sungguh mulia sabda Rasulullah SAW, bahwa wanita salehah adalah surganyanya dunia. ”Dunia (hidup di dunia ini) adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan di dunia ini adalah istri yang salehah.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Hikmah – Harian Republika – 06082009

Oleh Taufik Damas

Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, tercatat nama Umarah ibn al-Walid ibn al-Mughirah. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan menarik.
Terdapat kisah yang patut disimak menyangkut pemuda ini. Orang-orang kafir Quraisy telah memilihnya untuk ditukar dengan Rasulullah SAW karena keistimewaan fisiknya itu.

Orang-orang kafir Quraisy merasa terancam dengan dakwah Rasulullah SAW. Mereka melakukan berbagai cara untuk menghentikannya. Bujukan, hinaan, hingga penyiksaan telah mereka lakukan terhadap Nabi SAW dan para pengikutnya.

Hingga suatu hari mereka datang kepada Abu Thalib, paman Nabi SAW, hendak menukar Rasulullah SAW dengan Umarah. Mereka menyerahkan Umarah kepada Abu Thalib dan Abu Thalib menyerahkan Rasulullah SAW kepada mereka.

Mereka berharap Abu Thalib mengangkat Umarah sebagai anak angkatnya menggantikan Rasulullah SAW. Dan, mereka membawa Rasulullah SAW untuk kemudian dibunuh.

Mendengar tawaran itu, Abu Thalib terkejut. Ia pun menolak seraya berkata, ”Tidak mungkin aku menyerahkan Muhammad SAW untuk kalian bunuh, sementara kalian menyerahkan Umarah untuk aku jadikan anak.” Salah satu tokoh Quraisy yang ikut mengajukan tawaran ini adalah al-Walid ibn al-Mughirah, ayah kandung Umarah sendiri.

Berkenaan dengan siasat yang tidak manusiawi itu, Allah SWT menurunkan wahyu yang mengecam mereka. Firman Allah SWT tentang orang-orang kafir yang mendustakan agama Allah SWT termaktub dalam Alquran surah Almuddatstsir (74): 11-30.

Mengapa kaum Quraisy sampai membuat penawaran yang tidak masuk akal itu? Apakah mereka berpikir Abu Thalib akan menerimanya karena akan mendapatkan Umarah yang tampan dan lebih muda dari Rasulullah SAW?
Apa pun pertimbangan mereka, tawaran itu adalah bukti kepanikan di hadapan sebuah kebenaran yang tidak dapat mereka bendung. Kebencian terhadap kebenaran melahirkan sikap panik dan penderitaan berkepanjangan bagi pelakunya. Apa pun akan mereka lakukan untuk meredamnya.

Dalam banyak kasus, kepanikan mendorong orang melakukan tindakan destruktif yang merugikan banyak orang. Harapan mendapatkan keuntungan, yang datang justru kerugian. Inilah yang dialami oleh kaum Quraisy ketika mereka menentang kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW.

Di zaman sekarang, yang menghalangi sebagian orang untuk menerima kebenaran adalah keserakahan ekonomi dan politik. Mereka tidak segan menjadikan agama sebagai alat mengeruk keuntungan pribadi hingga nilai-nilai luhur agama terabaikan.

Sejarah kaum Quraisy menunjukkan bahwa siapa pun yang menentang atau menodai kebenaran pasti akan kalah dan menjadi pesakitan.

Sumber : Hikmah Harian Republika – 06082009