Anak-Anak Ajaib Gaza

July 22, 2010

Oleh EH Ismail,
dari Jalur Gaza,
Palestina Delapan remaja berusia 15-18 tahun sedang duduk melingkar saat saya berkunjung ke Masjid Al Abror di Rafah, wilayah Gaza, Palestina. Tangan mereka memegang kitab suci Alquran. Ada yang berukuran kecil, ada yang berukuran sedang, dan ada pula yang berukuran besar. Sepandangan mata, mereka membaca Alquran yang ada di tangan. Sekejap kemudian, Alquran ditutup dan mulutnya mengulangi ayat-ayat yang baru saja dibaca dengan mata terpejam. Gerakan itu dilakukan berulang-ulang. Di samping mereka, ada lingkaran anak-anak lain yang melakukan hal sama. Di hadapan para remaja ini, duduk Hasan Ali Al Azajy (47 tahun). Di depan Hasan, ada Alquran besar terbuka. Alquran dalam posisi setengah berdiri di atas meja kecil. Di sisi lain masjid, sejumlah anak duduk berbaris memanjang berjarak satu meter, seperti antrean. Di hadapan mereka, ada seorang ustaz yang meletakkan Alquran sama seperti yang dilakukan Hasan. Hasan dan juga ustaz lainnya memanggil satu per satu anak itu ke hadapan mereka. Anak-anak pun maju tanpa Alquran lagi di tangan. Di hadapan para ustaz, mulailah mereka membaca ayat-ayat Alquran yang baru saja dihafalnya. Pemandangan seperti di Masjid Al Abror, saya jumpai setiap hari di sejumlah masjid di Rafah. Kebetulan, saat ini adalah musim liburan sekolah. Kebanyakan anak dan remaja Gaza berkumpul di masjid selepas shalat Subuh sampai waktu Zuhur untuk mengikuti sekolah menghafal Alquran yang diadakan para pengurus masjid. Saya sudah mendengar berita tentang sekolah ini sebelum bertugas ke Gaza. Mulanya, saya tak percaya banyak generasi belia Gaza mampu menghafal seluruh ayat Alquran dalam waktu dua bulan. Tapi, sekarang saya menyaksikan sendiri sejumlah anak dalam waktu tiga jam bisa hafal satu juz Alquran! Padahal, dia hanya membaca sekelebat dan kemudian mengulanginya di hadapan sang ustaz. Sungguh luar biasa. Hal yang membuat saya lebih terperangah adalah kondisi lingkungan mereka menghafal Alquran yang jauh dari kata sepi dan sunyi. Masjid Al Abror terletak di tengah-tengah pasar yang ramai dengan aktivitas dagang penduduk Rafah. Saat saya datang, bunyi mesin bor menderu di sekitar mereka. Masjid yang hancur karena serangan roket Israel pada dini hari 15 Januari 2009 itu sedang direnovasi. Keramik-keramik lantai masjid belum terpasang kembali. Atap pembatas antara lantai satu dan lantai dua masjid juga masih menganga. Lubang bekas hantaman roket dan kipas angin yang menggelayut di atap masih terlihat jelas. Anak-anak itu harus belajar beralas tikar. “Walaupun sedang renovasi, kami tak ingin anak-anak kehilangan waktu untuk belajar dan menghafal Alquran. Biar saja sementara pakai tikar dan masih berpasir,” ujar Syekh Abu Mansoor, imam masjid Al Abror. Di sebelah selatan Masjid Al Abror, saya mampir di Masjid Ibadurrahman. Masjid dua lantai ini memiliki bangunan yang jauh dari kesan megah. Di lantai pertama, pemandangan sama seperti di Masjid Al Abror kembali saya temui. Namun, jumlah anak dan remaja yang tengah menghafal Alquran lebih banyak. Di lantai dua masjid, kerumunan anak-anak dan remaja putri juga tengah mengikuti sekolah menghafal Alquran. Saat mencoba melongok ke lantai dua masjid, saya berbicara dengan sejumlah ustazah guna mencari tahu rahasia kemampuan murid-murid mereka dalam menghafal Alquran secara cepat. Seorang ustazah menerangkan, mereka bersyukur kepada Allah yang telah melahirkan mereka di negeri yang mempunyai bahasa Arab sebagai bahasa ibunya. “Bahasa Arab, bahasa Alquran, adalah bahasa kami. Kami bersyukur atas berkah ini. Sekarang, kami ingin menjadi bagian dalam upaya memelihara kemurnian dan mukjizat Alquran,” papar ustazah yang tak saya ketahui wajahnya itu. Tengah asyik mendengar penjelasan sang ustazah, seorang gadis mungil berlari sambil membawa secarik kertas ke hadapan saya. Di atas kertas buku yang sobek itu, tertera barisan kata-kata dalam bahasa Inggris. Si gadis pun membacakan tulisannya di hadapan saya. We are very happy to see you in our country Palestine. We are reading our Holly Book (Quran). Certainly Quran is protected in our hearts, chests, minds, and tongues. Help us to be the best Muslims in the world. Saya ingin memeluk gadis itu kalau tak sadar banyak wanita bercadar di sekeliling saya. Saya pun hanya membelai kepala sang gadis dan membisikkan kata, “Insya Allah, I will help you my little beautiful sister.” Semuanya pun tertawa riang. Gadis itu bernama Aya Saad Abu Jazair. Usianya baru 13 tahun dan dia adalah anak terpandai di sekolah dalam menghafal Alquran di Masjid Ibadurrahman. Sambil bergurau, sang ustazah berkata, “Saya yakin, hafalan Alqurannya lebih baik dari Anda, saudaraku dari Indonesia.” Saya pun mencoba memastikan tebakan sang ustazah. Saya ambil Alquran kecil dalam tas dan membaca sembarang ayat yang saya buka. Begitu satu ayat saya baca, Aya Saad pun melanjutkan ayat selanjutnya tanpa kesalahan sama sekali! Saya coba lagi dengan menyebutkan nama surah Almukminuun, lagi-lagi Aya Saad melafalkan ayat-ayat dalam surah itu dengan sempurna. Kami pun tertawa kembali. Pimpinan Yayasan Darul Quran dan Sunah Rafah, Soleh Ibnu Mansoor (Abu Hakim), mengatakan, saat ini lebih dari 40 ribu anak-anak dan remaja Gaza hafal Alquran. Abu Hakim meyakini, menghafal Alquran bukanlah soal ada atau tidak ada waktu. Bukan pula soal bisa atau tidak bisa bahasa Arab. Kuncinya, semangat dan keimanan yang menjadi bahan bakar utama. “Anda lihat sendiri, tidak ada yang luar biasa yang kami lakukan untuk menghafal Alquran. Anak-anak hanya duduk membaca, kemudian mengulanginya dengan kesungguhan hati,” papar Abu Hakim. Dia melanjutkan, tertanamnya keyakinan dalam dada anak-anak Gaza—hanya Alquran yang bisa menyelamatkan mereka dari semua cobaan hidup di dunia dan mengantarkan mereka dalam kehidupan bahagia di akhirat kelak—merupakan faktor utama cepatnya kemampuan menghafal Alquran. “Kami juga yakin, Alquran wasilah kami untuk menjadi Muslim yang tangguh dan terus menegakkan Islam di dunia ini,” ucap Abu Hakim. ed: rahmad bh

sumber :http://koran.republika.co.id/koran/14/115605/Anak_Anak_Ajaib_Gaza

Teladan Ummu Sulaim

August 6, 2009

Oleh Rifqi Fauzi

Dalam sebuah hadis, Anas menceritakan tentang keluarga Abu Thalhah dan Ummu Sulaim. Pasangan ini dikaruniai seorang anak yang dipanggil dengan nama Abu Umair.

Suatu hari, Umair sakit parah, sampai meninggal dunia. Sementara Abu Thalhah sedang tidak berada di rumah. Ummu Sulaim pun memandikan, mengafani, dan menutupkan pakaian kepadanya, seraya berkata kepada khalayak.

”Jangan ada seorang pun yang memberitahukan hal ini kepada Abu Thalha, Biarkanlah aku sendiri yang akan mengabarkannya.” Ketika Abu Thalhah pulang, Ummu Sulaim menyambutnya dengan tubuh yang sudah wangi dan berdandan. Dia pun telah menyiapkan hidangan makanan untuknya.

Sebagai bapak yang sudah lama bepergian, Abu Thalhah merasa rindu kepada anaknya. Dia pun bertanya, ”Abu Umair, sedang apa?”

”Makanlah dulu, lalu istirahatlah!” jawab Ummu Sulaim.
Abu Thalhah pun menurutinya. Sehabis makan, dia beristirahat. Di tempat tidur, istrinya bertanya. ”Wahai Abu Thalhah, apa pendapatmu, jika suatu keluarga dipinjami suatu benda oleh keluarga lain. Kemudian, si pemilik benda tersebut meminta untuk mengembalikannya. Apakah keluarga tersebut akan mengembalikannya atau menahannya?”

”Tentu harus dikembalikan kepada pemiliknya,” jawab Abu Thalhah. Lalu Ummu Sulaim berkata, ”Kalau begitu, mohonlah pahala atas kematian Abu Umair, karena sesungguhnya Allah hanya menitipkannya kepada kita sebagai amanat. Dan sekarang Dia ingin mengambilnya kembali.”

Pagi harinya Abu Thalhah menceritakan kejadian tersebut kepada Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW bersabda, ”Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua.” (HR Bukhari-Muslim).

Salah satu hak dan kewajiban suami istri adalah bergaul dengan cara yang baik. Kisah di atas menjadi contoh bagaimana cara bergaul suami istri yang baik, di mana Ummu Sulaim menyambut suaminya yang datang dari bekerja dengan ramah tamah, wajah ceria, dan dengan penampilan yang menarik.

Padahal, dia masih diselimuti duka yang mendalam dengan kepergian anaknya. Dia pun memberikan contoh bagaimana cara menyampaikan kabar buruk dengan cara yang baik kepada suami.

Ummu Sulaim tidak ingin suaminya merasa kaget, stres, dan meratapi kepergian anaknya, sehingga dia menyampaikannya dengan cara diplomatis, sehingga Abu Thalhah bisa menerimanya dengan lapang dada.

Sungguh mulia sabda Rasulullah SAW, bahwa wanita salehah adalah surganyanya dunia. ”Dunia (hidup di dunia ini) adalah kesenangan dan sebaik-baik kesenangan di dunia ini adalah istri yang salehah.” (HR Muslim). Wallahu a’lam bish-shawab.

Sumber : Hikmah – Harian Republika – 06082009

Oleh Taufik Damas

Dalam sejarah perjuangan Rasulullah SAW, tercatat nama Umarah ibn al-Walid ibn al-Mughirah. Ia adalah seorang pemuda yang tampan dan menarik.
Terdapat kisah yang patut disimak menyangkut pemuda ini. Orang-orang kafir Quraisy telah memilihnya untuk ditukar dengan Rasulullah SAW karena keistimewaan fisiknya itu.

Orang-orang kafir Quraisy merasa terancam dengan dakwah Rasulullah SAW. Mereka melakukan berbagai cara untuk menghentikannya. Bujukan, hinaan, hingga penyiksaan telah mereka lakukan terhadap Nabi SAW dan para pengikutnya.

Hingga suatu hari mereka datang kepada Abu Thalib, paman Nabi SAW, hendak menukar Rasulullah SAW dengan Umarah. Mereka menyerahkan Umarah kepada Abu Thalib dan Abu Thalib menyerahkan Rasulullah SAW kepada mereka.

Mereka berharap Abu Thalib mengangkat Umarah sebagai anak angkatnya menggantikan Rasulullah SAW. Dan, mereka membawa Rasulullah SAW untuk kemudian dibunuh.

Mendengar tawaran itu, Abu Thalib terkejut. Ia pun menolak seraya berkata, ”Tidak mungkin aku menyerahkan Muhammad SAW untuk kalian bunuh, sementara kalian menyerahkan Umarah untuk aku jadikan anak.” Salah satu tokoh Quraisy yang ikut mengajukan tawaran ini adalah al-Walid ibn al-Mughirah, ayah kandung Umarah sendiri.

Berkenaan dengan siasat yang tidak manusiawi itu, Allah SWT menurunkan wahyu yang mengecam mereka. Firman Allah SWT tentang orang-orang kafir yang mendustakan agama Allah SWT termaktub dalam Alquran surah Almuddatstsir (74): 11-30.

Mengapa kaum Quraisy sampai membuat penawaran yang tidak masuk akal itu? Apakah mereka berpikir Abu Thalib akan menerimanya karena akan mendapatkan Umarah yang tampan dan lebih muda dari Rasulullah SAW?
Apa pun pertimbangan mereka, tawaran itu adalah bukti kepanikan di hadapan sebuah kebenaran yang tidak dapat mereka bendung. Kebencian terhadap kebenaran melahirkan sikap panik dan penderitaan berkepanjangan bagi pelakunya. Apa pun akan mereka lakukan untuk meredamnya.

Dalam banyak kasus, kepanikan mendorong orang melakukan tindakan destruktif yang merugikan banyak orang. Harapan mendapatkan keuntungan, yang datang justru kerugian. Inilah yang dialami oleh kaum Quraisy ketika mereka menentang kebenaran risalah yang dibawa Rasulullah SAW.

Di zaman sekarang, yang menghalangi sebagian orang untuk menerima kebenaran adalah keserakahan ekonomi dan politik. Mereka tidak segan menjadikan agama sebagai alat mengeruk keuntungan pribadi hingga nilai-nilai luhur agama terabaikan.

Sejarah kaum Quraisy menunjukkan bahwa siapa pun yang menentang atau menodai kebenaran pasti akan kalah dan menjadi pesakitan.

Sumber : Hikmah Harian Republika – 06082009

Surat Ali bin Abi Thalib r.a kepada Mu’awiyah: “Dunia membuat orang sibuk dan melupakan urusan-urusan lain. Pengejar dunia tak pernah mendapat sesuatu, selain rasa tak puas. Sungguh, ia tak kan pernah puas pada setiap apa yang diperolehnya.”

Seorang pengusaha sukses jatuh di kamar mandi
dan akhirnya stroke. Sudah 7 malam dirawat di
RS di ruang ICU. Di saat orang-orang terlelap
dalam mimpi malam, dalam dunia roh seorang
malaikat menghampiri si pengusaha yang
terbaring tak berdaya.

Malaikat memulai pembicaraan, "Kalau dalam
waktu 24 jam ada 50 orang berdoa buat
kesembuhanmu, maka kau akan hidup. Dan
sebaliknya jika dalam 24 jam jumlah yang aku
tetapkan belum terpenuhi, itu artinya kau
akan meninggal dunia!

"Kalau hanya mencari 50 orang, itu mah
gampang .. . " kata si pengusaha ini dengan yakinnya.

Setelah itu Malaikat pun pergi dan berjanji
akan datang 1 jam sebelum batas waktu yang sudah disepakati.

Tepat pukul 23:00, Malaikat kembali
mengunjunginya; dengan antusiasnya si
pengusaha bertanya, "Apakah besok pagi aku
sudah pulih? Pastilah banyak yang berdoa buat
aku, jumlah karyawan yang aku punya lebih
dari 2000 orang, jadi kalau hanya mencari 50
orang yang berdoa pasti bukan persoalan yang sulit".

Dengan lembut si Malaikat berkata, "Anakku,
aku sudah berkeliling mencari suara hati yang
berdoa buatmu tapi sampai saat ini baru 3
orang yang berdoa buatmu, sementara waktumu
tinggal 60 menit lagi. Rasanya mustahil kalau
dalam waktu dekat ini ada 50 orang yang
berdoa buat kesembuhanmu".

Tampa menunggu reaksi dari si pengusaha, si
malaikat menunjukkan layar
besar berupa TV siapa 3 orang yang berdoa
buat kesembuhannya. Di layar itu terlihat
wajah duka dari sang istri, di sebelahnya ada
2 orang anak kecil, putra putrinya yang
berdoa dengan khusuk dan tampak ada tetesan
air mata di pipi mereka".

Kata Malaikat, "Aku akan memberitahukanmu,
kenapa Tuhan rindu memberikanmu kesempatan
kedua? Itu karena doa istrimu yang tidak
putus-putus berharap akan kesembuhanmu"

Kembali terlihat dimana si istri sedang
berdoa jam 2:00 subuh, " Tuhan, aku tahu
kalau selama hidupnya suamiku bukanlah suami
atau ayah yang baik! Aku tahu dia sudah
mengkhianati pernikahan kami, aku tahu dia
tidak jujur dalam bisnisnya, dan kalaupun dia
memberikan sumbangan, itu hanya untuk
popularitas saja untuk menutupi perbuatannya
yang tidak benar dihadapanMu. Tapi Tuhan,
tolong pandang anak-anak yang telah Engkau
titipkan pada kami, mereka masih membutuhkan
seorang ayah. Hamba tidak mampu membesarkan
mereka seorang diri."

Dan setelah itu istrinya berhenti berkata-
kata tapi air matanya semakin deras mengalir
di pipinya yang kelihatan tirus karena kurang istirahat".

Melihat peristiwa itu, tampa terasa, air mata
mengalir di pipi pengusaha ini. Timbul penyesalan bahwa selama ini bahwa dia
bukanlah suami yang baik. Dan ayah yang menjadi contoh bagi anak-anaknya.
Malam ini dia baru menyadari betapa besar cinta istri dan anak-anak padanya.

Waktu terus bergulir, waktu yang dia miliki hanya 10 menit lagi, melihat
waktu yang makin sempit semakin menangislah si pengusaha ini,penyesalan yang
luar biasa. Tapi waktunya sudah terlambat ! Tidak mungkin dalam waktu 10
menit ada yang berdoa 47 orang !

Dengan setengah bergumam dia bertanya,"Apakah diantara karyawanku,
kerabatku, teman bisnisku, teman organisasiku tidak ada yang berdoa buatku?"

Jawab si Malaikat, " Ada beberapa yang berdoa buatmu.Tapi mereka tidak
Tulus. Bahkan ada yang mensyukuri penyakit yang kau derita saat ini. Itu
semua karena selama ini kamu arogan, egois dan bukanlah atasan yang baik.
Bahkan kau tega memecat karyawan yang tidak bersalah".
Si pengusaha tertunduk lemah, dan pasrah
kalau malam ini adalah malam yang terakhir buat dia. Tapi dia minta waktu
sesaat untuk melihat anak dan si istri yang setia menjaganya sepanjang
malam.

Air matanya tambah deras, ketika melihat anaknya yang sulung tertidur di
kursi rumah sakit dan si istri yang kelihatan lelah juga tertidur di kursi
sambil memangku si bungsu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 24:00, tiba-tiba si Malaikat berkata,"Anakku,
Tuhan melihat air matamu dan penyesalanmu ! ! Kau tidak jadi
meninggal,karena ada 47 orang yang berdoa buatmu tepat jam 24:00".

Dengan terheran-heran dan tidak percaya, si
pengusaha bertanya siapakah yang 47 orang itu. Sambil tersenyum si Malaikat
menunjukkan suatu tempat yang pernah dia kunjungi bulan lalu.

Bukankah itu Panti Asuhan ? kata si pengusaha pelan.
"Benar anakku, kau pernah memberi bantuan bagi mereka beberapa bulan yang
lalu, walau aku tahu tujuanmu saat itu hanya untuk mencari popularitas saja
dan untuk menarik perhatian pemerintah dan investor luar negeri. "

"Tadi pagi, salah seorang anak panti asuhan tersebut membaca di koran kalau
seorang pengusaha terkena stroke dan sudah 7 hari di ICU. Setelah melihat
gambar di koran dan yakin kalau pria yang sedang koma adalah kamu, pria yang
pernah menolong mereka dan akhirnya anak-anak panti asuhan sepakat berdoa
buat kesembuhanmu. "

Doa sangat besar kuasanya. Tak jarang kita malas. Tidak punya waktu. Tidak
terbeban untuk berdoa bagi orang lain.

Ketika kita mengingat seorang sahabat lama/keluarga, kita pikir itu hanya
kebetulan saja padahal seharusnya kita berdoa bagi dia. Mungkin saja pada
saat kita mengingatnya dia dalam keadaan butuh dukungan doa dari orang-orang
yang mengasihi dia.

Disaat kita berdoa bagi orang lain, kita akan mendapatkan kekuatan baru dan
kita bisa melihat kemuliaan Tuhan dari peristiwa yang terjadi.

Hindarilah perbuatan menyakiti orang lain...
Sebaliknya perbanyaklah berdoa buat orang lain.

Terima kasih

Karena pahlawan sejati, bukan dilihat dari kekuatan phisiknya,tapi dari
kekuatan hatinya.
Katakan ini dengan pelan, "Ya TUHAN saya mencintai-MU dan membutuhkan-MU,
datang dan terangilah hati kami sekarang...!!!".  Kirim ke 10 orang, lihat
keajaiban malam ini.  Tolong jangan di hapus, ini benar2 terjadi !!!!!

Jejak Shalat

June 24, 2008

Dari : Republika Online, Selasa 24 Juni 2008

Ditulis : Rashid Satari

Shalat yang dilakukan dengan baik akan meninggalkan bekas yang baik pula. Allah SWT berfirman, ”Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Alquran dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al Ankabut [29]: 45).

Ayat Alquran di atas menunjukkan pelaksanaan ibadah shalat memiliki efek positif pada tingkah laku pelaksananya. Secara langsung, seseorang yang melaksanakan shalat dengan baik akan senantiasa terkontrol dan terjaga perilakunya. Serta, terhindar dari perbuatan-perbuatan yang tidak sejalan dengan nilai-nilai kebajikan yang diajarkan Islam.

Nabi Muhammad SAW berpesan dalam salah satu hadisnya yang lain tentang urgensi shalat dalam Islam. Rasulullah SAW bersabda, ”Shalat adalah tiang agama, barang siapa yang mengerjakannya berarti ia menegakkan agama. Dan, barang siapa yang meninggalkannya berarti ia meruntuhkan agama.” (HR Baihaqi). Sebagaimana sebuah bangunan, Islam pun akan mudah goyah dan runtuh bila berdiri tanpa tiang, yaitu ibadah shalat.

Islam akan tegak ketika nilai-nilai ajarannya terimplementasikan dalam kehidupan nyata. Ke-Islaman seseorang akan kuat berdiri ketika Islam tidak hanya diyakini melainkan juga dipraktikkan. Hal tersebut terjadi karena ibadah shalat mendorong pelaksananya untuk senantiasa ingat kepada Allah SWT. Dalam sebuah ayat Allah SWT berfirman, ”Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS Thaahaa [20]: 14).

Lebih lanjut, betapa penting pengaruh shalat dalam kehidupan manusia sebagaimana penjelasan Rasulullah SAW, ”Amal yang pertama kali akan dihisab untuk seorang hamba nanti pada hari kiamat ialah shalat. Apabila shalatnya baik (lengkap) maka baiklah seluruh amalnya yang lain dan jika shalatnya itu rusak (kurang lengkap) maka rusaklah segala amalan yang lain.” (HR Thabrani).

Di sinilah terdapat hikmah agung, yaitu ketika shalat wajib disyariatkan lima kali dalam satu hari. Ketika seseorang melaksanakan shalat dengan baik, kehidupannya sepanjang hari akan selalu berada dalam koridor Islam. Wallahu alam bish-shawwab.

Kualitas Shalat

May 10, 2008

Kolom Hikmah, Harian RepublikaSabtu, 10 Mei 2008

Kualitas Shalat

Oleh : Toha MT Lc

Kunci kesuksesan dan kebahagiaan sebenarnya terletak pada sejauh mana kemampuan kita dalam menyerap makna dari kejadian-kejadian dalam kehidupan ini untuk kemudian menjadikannya pelajaran. Selama manusia belum mampu mengambil dan menyerap makna dari kejadian-kejadian tersebut, manusia belum memiliki kejernihan pandangan dan ketajaman hati. Maka, ia tidak akan menemukan jalan yang membawanya pada kebahagiaan yang diinginkan.

Allah SWT berfirman, ”Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)-mu. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS Alanfal [8]: 29). Ketajaman pandangan dan kejernihan nurani terkait erat dengan ketakwaan yang dimiliki. Orang yang selalu menjaga kesucian jiwanya dengan tidak mengotori hatinya dari segala bentuk penyakit hati, seperti dendam, egois, dengki, keras kepala, dan sebagainya, akan dapat melihat hakikat satu kejadian dan peristiwa tanpa tirai penghalang.

Kejernihan hati merupakan kunci aspirasi dan saklar penghubung hikmah di balik kejadian. Rasulullah SAW bersabda, ”Hati-hatilah kamu terhadap firasat seorang mukmin karena ia memandang dengan cahaya Allah.” (HR Turmudzi). Kualitas ketakwaan seseorang sesungguhnya terkait dengan kualitas shalat yang didirikannya. Selain sebagai sarana komunikasi antara makhluk dengan Sang Khalik, shalat juga merupakan satu bentuk ibadah yang mengandung partikel-pertikel khusus untuk mensterilkan hati dan jiwa dari kotoran-kotoran dan penyakit yang dapat merusak hati.

Allah SWT mengilustrasikan hal itu dalam firman-Nya, ”… Dan, dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan, sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan, Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Alankabut [29]: 45).

Rasulullah SAW bersabda, ”Apa pendapat kamu jika sebuah sungai berada di depan rumah salah seorang kalian, kemudian ia mandi sebanyak lima kali setiap harinya, apakah tersisa kotoran darinya?” Para sahabat menjawab, ”Tentu tidak tersisa sedikit pun kotoran.” Rasul bersabda, ”Demikianlah perumpamaan shalat. Ia berfungsi sebagai penggugur dosa dan kesalahan.” (HR Muttafaq Alaih)